KE MANA KU PERGI !

KE   MANA KU PERGI !

Minggu, 10 Januari 2010

MISTERI (4 )

Suatu siang yg panas. Sepulang sekolah, aku & ke 3 adikku makan dg lahapnya. Setelah adik bungsuku tidur siang, aku membuka2 buku pelajaranku. Adik ke 2ku mengerjakan PRnya & adik ke3 ku mencoret2 di buku gambar. Dia memang hobi melukis,mungkin bakat itu diturun kan dari papa. Mama sedang menjahit pakaian2 yg kancingnya lepas ato robek. Saat itu aku ingat kejadian saat mama menjerit di tengah malam. " mama janji mau cerita tentang jeritan itu? " aku mengangkat wajah dari buku pelajaran ku. 2 adikku mendekat. " iya ma, cerita dong " adik no.2 ku memohon. Aku melirik wajah mama. Dia meletakan pakaian yg dijahitnya di keranjang pakaian. Menghela napas panjang, ada kegelisahan yg ku tangkap di mata itu. Aku mengenal mamaku, dia bukan lah jenis wanita penakut. Dia tegar,pemberani & kuat. Buktinya, kami berhasil pindah dari pedalaman Kalimantan Tengah melalui sungai dg kapal kayu besar berhari2 menyusuri sungai tanpa di temani papa yg sedang ke luar pulau. Kami pindah menuju ibu kota propinsi kalimantan Selatan. Walaupun tempat itu asing buat kami. Mama berhasil melalui hal itu, ato waktu di udik, kami tinggal di desa yg penghuni nya jarang. Jarak rumah penduduk dg rumah kami sangat jauh, bahkan harus menembus hutan gelap dg pepohonan lebat. Otomatis hanya kami berlima saja. Toh, mama tetap berani. Keberanian mama menular pdku. Aku jarang merasa takut. " loh malah melamun? " mama menjawil hidungku. " katanya mau dengar cerita?" aku mengangguk malu. Mama memulai ceritanya " sayang, kalian tau kan. Kita mahluk manusia di ciptakan tdk sendiri. Ada mahluk2 lain, yg dunianya juga berbeda dari alam kita..." Adikku langsung nyeletuk " maksud mama, hantu? Seperti yg dikatakan org2 tentang rumah kita?" adikku beringsut merapatkan tubuhnya pdku. " Engga sayang. Mahluk2 itu tdk akan menganggu kita. Kita punya dunia masing2. Mereka adalah mahluk yg bernama jin" Lalu mama bercerita mahluk2 ciptaan Allah di alam gaib. Hampir persis seperti yg diceritakan oleh guru agamaku di sekolah. Jadi aku boleh percaya pd hal2 diluar kemampuan manusia, tapi aku tdk boleh takut karena kepada Allah lah kita wajib takut. " trus mimpi mama tentang apa? " aku menatap penasaran. " mama juga ngga yakin, itu mimpi ato halusinasi. Mama udah tidur ato belum... Mama melihat satu wajah yg bukan wajah manusia biasa menatap mama dari kaca pintu itu". ( pintu kamar mama yg nembus ke ruang tamu, separuhnya terbuat dari kaca bagian atasnya sementara bawahnya dari kayu ulin yg berat). Aku bergidik. " wajahnya mengerikan tapi ngga jelas. Mama coba mengedip2kan mata lalu mengucek2 sambil bangung dari tempat tidur, wajah itu tetap ada. Menatap dg pandangan mengerikan, mama ketakutan lalu spontan menjerit. Mama baru sadar, mengucapkan nama Allah, membaca sebaris ayat yg terlintas di otak, lalu lari menuju kamar kalian" mama menarik napas. Dadanya turun naik." Wajah itu hilang setelah mama menjerit?" tanyaku. " mama nga tau, krn mama langsung lari & ngga berani melihat ke arah pintu lagi" Mama menghela napas lagi. " entah mengapa, setelah itu, mama merasa selalu ada yg mengawasi mama dlm rumah ini. Namun yakinlah, Allah akan selalu menjaga kita sayang" mama menenangkan kami. Aku baru sadar, beberapa malam setelah kejadian itu, mama tidur dgku. Kami ngumpul di ranjangku. Mama tetap mengajarkan kami agar tdk takut & menghapal doa2 yg mampu membuat kami tenang. Sejak cerita mama, kami selalu bersama2 melakukan kegiatan dlm rumah. Makan malam di percepat, hampir sore kami udah makan. Nonton TV (hitam putih,pd masa itu) jarang kami lakukan di ruang keluarga. Kami lebih banyak berkumpul di ruangan tidur anak2 yg besar. Saat papa datang, mama menceritakan hal itu, tapi papa mengatakan itu hanya perasaan mama saja. Suasana lebih cerah & ceria kalo papa ada di rumah. Dia pintar masak. Kadang dia membawa udang besar, mengoreng ato membuat sup dg udang itu. Ato juga kepiting. Jenis lauk yg jarang kami makan. Papa sangat suka pd jenis ikan2 laut. Terkadang papa juga membawa kakap merah. Memasaknya dg lezat. Suasana rumah jadi ramai. Apalagi tamu2 kadang bertamu sampai larut malam di rumah kami. Ketakutan itu berlahan2 sirna dari otak2 kekanakan kami. Hari terus berganti. Permainan anak2pun ada musimnya. Saat musim layang2. Kami melapisi benang kami dg lapisan campuran yg aku ga ngerti. Hanya adik ku yg tau, sehingga benannya menjadi tajam. Kami membentang benang di bawah rumah panggung kami. Melilitkan benang pd tiang2 rumah,melapisi, mengeringkan lalu memintalnya kembali pd bekas kaleng susu kental manis yg dilubangi bagian tengahnya. Saat papa harus kembali pergi, tamu2 juga mulai berkurang datang. Maka kesunyian mulai melingkupi kami. Jam makan malam kami yg dulu bergeser sore krn ketakutan dulu kembali ke malam hari. Kami berkumpul riuh, layaknya sebuah keluarga walaupun tanpa papa lagi. Ketakutan itu benar2 hilang. Aku bahkan sering mandi berlama2 di kamar mandi belakang karena airnya yg sejuk segar. Mungkin karena bak mandi itu dari batu & dasarnya hitam tak kelihatan apa2. Rasanya dingin. Bak itu tak pernah surut, airnya selalu penuh. Krn kalo tersisa separuh, tanganku dg gayung tak kan sampai menyentuh airnya. Aku mandi sambil bernyanyi & suaraku bergema memantul dari dinding & langit2nya yg tinggi. ¤¤¥ Disaat usiaku genap 10th. Aku diberi tanggung jawab untuk memasak nasi utk makan malam. Jadi sore aku udah siap2 memasak, proses masaknya 2x. 1x saat menunggu nasi di kuali/panci setengah matang,lalu memanaskan air dalam pancing besar & tinggi dg saringan ditengahnya. Panci itu disebut dandang, saat air dlm dandang meletup2 maka saat itulah proses ke 2xnya mematangkan nasi dg cara mengukusnya. Aku melakukan dg pelan2.memasukan beras setengah matang ke dlm dandang agar jgn tumpah ato jatuh. Walau panas, aku tetap bekerja dg teliti. Lalu merendam panci bekas menanak nasi tsb dg air,agar kerak2 yg menempel bisa dg mudah di cuci. Saat proses memasak itu, menunggu nasi matang,aku sering duduk di teras belakang dg santai. Bernyanyi2. Saat itu aku mempunyai sebuah gitar yg dibelikan oleh papa, sbg hadiah ulang tahunku. Lagu yg kumainkan adalah lagu daerah banjar berjudul " daun dadap" kunci nadanya sangatlah mudah di hapal. Sambil menghirup udara sore, aku memetik gitar dg suara senarnya tak bening. Ngejreng2 terdengar falas. Tapi aku cukup senang. Aku membayangkan, bgm papa begitu merdu memetik dawai2 gitar. Saat begitulah, aku juga asyik menatap tupai yg berlarian di pohon kelapa. Melompat sana sini dg riang nya. Kebahagian masa kecilku, selalu membuatku tersenyum. Namun keadaan itu tak abadi. Tiba2 ada lagi kejadian dlm rumah itu yg membuatku syok. Bahkan sampai membuatku sakit panas berhari2. Bayangan yg membuatku menjerit2 baik saat ku tidur atopun saatku sadar.( uh capeknya ngetik...bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut