KE MANA KU PERGI !

KE   MANA KU PERGI !

Selasa, 16 Februari 2010

google-site-verification: google8dbbde2b69a3d98c.html

Episode Sang Penghianat Cinta

            " Mengapa aku mencintaimu?" aku menatap mata Rizal, mencari tau mengapa dia menanyakan hal yang aku sendiri tak punya jawabannya. Rasanya pertanyaan itu tak perlu aku jawab, tapi mungkin harus aku tanggapi.
" Sori, aku bahkan ngga tau apa itu cinta " aku menutup mulut rizal dengan kecup bibirku. Lalu segalanya lenyap. Hanya ada aku, Rizal kekasihku dan keinginan yang tak pernah terpuaskan. Sinar matahari tiba-tiba sudah menghangatkan bagian tubuhku. Hangat yang beda dengan hangat tubuh Rizal. Kaca jendela tertimpa sinar perak matahari. Sinarnya yang melimpah membangunkan impian indah dua manusia yang lupa diri dalam mengartikan rasa cintanya. Rasa yang membuat  kami berada di pantai ini. Membawa kami ratusan kilometer jauh dari kebisingan alam nyata. Kenyataan bahwa aku adalah seorang istri dari seorang lelaki lain . Kenyataan bahwa Rizal adalah seorang ayah, suami dan pengacara cukup terkenal di beberapa kota propinsi. Lalu kegilaan rasa yang tak kami mengerti terus membayang, membakar musnah logika dan akal sehat yang masih kami miliki.Geliat tubuh Rizal membuyarkan lamunanku. 
" Udah bangun cantik? " tangannya mengulur, menyentuh pipiku.
" Kita pulang hari ini" aku merasa tidak punya keinginan untuk berlama-lama lagi di tempat ini.
" Izinmu kan tiga hari sayang" Jemarinya membelai tiap sudut wajahku. Aku menarik napas, menghembuskan keras-keras, berharap membuang hangat dadaku dan hasrat yang aku sendiri tau bagaimana memenuhinya.
" Aku merasa ngga enak. Entah mengapa?" aku bangun dengan tiba-tiba, membuat tangan Rizal mengantung di udara. Sia-sia. 
" Aku mandi dulu! " Rizal berdiri, memamerkan tubuh telanjangnya yang indah. Bak ukiran yang tercipta sempurna setiap detilnya. Tubuh yang akhir akhir ini membuatku tengelam dalam samudera dosa yang indah. Tubuhnya menjauh, lenyap dibalik pintu kamar mandi. Aku menatap keluar jendela. Jauh menuju bibir pantai... menutup mataku dan mendengarkan debur halus ombak memecah di pantai.

           Aku mengenal Rizal lewat seorang teman dengan tidak sengaja. Aku sudah sering mendengar nama, melihat sosoknya di berbagai media dan kiprahnya dalam dunia hukum. Suatu profesi tak biasa yang cukup membanggakan. Pengacara. Dan eksitensinya tak diragukan lagi. Pekerjaanku sebagai marketing yang membutuhkan jaringan luas, pertemanan dan pergaulan berbagai lapisan masyarakat, membuatku tak sungkan memasukkan dirinya sebagai calon pelangganku. Perusahaanku bergerak dalam dunia otomotif adalah salah satu pemegang nama merk terkenal berbagai jenis kendaraan. Beberapa cabang yang ada menempatkan aku sebagai leadernya. Beberapa orang tiap cabang adalah tangan-tangan handalku dalam penyelesaian target-terget penjualan yang ketat ditentukkan oleh perusahaan. Dan aku bersyukur, grafik penjualan beberapa cabang meningkat melampaui target sehingga perusahaan terus meningkatkan nominal target. Dunia marketing adalah jiwaku, tak banyak kendala yang kuhadapi dalam menjalani profesiku. Ilmunya terus kupelajari, meskipun aku telah menyelesaikan pendidikan khusus di bidang itu.Rak bukuku lebih banyak memuat judul-judul yang erat kaitannya dengan dunia marketing. Diantara kejenuhan perkawinanku yang sepi tanpa di warnai oceh anak-anak, setelah hampir tujuh tahun mengarungi bersama suamiku yang maha sopan, pendiam, tak mudah di tebak dan sangat sempurna sebagai seorang suami. Aku keluar menjadi seorang wanita yang agresif, pemikir, ceria, banyak tawa dan mungkin agak bawel bahkan agak sedikit liar.

         Beberapa kali berjumpa secara tidak sengaja setelah perkenalanku dengan Rizal, membuatku kian meningkatkan kekagumanku pada setiap buah pikirnya. Ketegasan dan kecerdasannya dalam menangkap setiap peluang untuk diapresiasikan dalam bentuk tindakan cerdas dalam keputusan hukumnya dan memenangkan kasus demi kasus, tidak saja membuatku berdecak kagum, namum sudah menjurus ke arah rasa yang tak terkendali. Sikap dan wataknya yang jauh berbeda 180 derajat dengan Tino suamiku, membuatku berdiri di tubir jurang penghianat. Dan kala akal sehatku sudah menjauh dari nuraniku sebagai seorang wanita terhormat, aku jatuh dalam lautan kenistaan yang jelas-jelas ku sadari. Sehingga pada suatu kesempatan yang disediakan oleh setan, aku tergelincir secara suka rela menikmati manis madu-nya dosa. Ohhh... aku bahkan membawa-bawa setan dan menuduhnya menciptakan peluang hanya karena kemunafikanku.....

       " Sudah siap? " Rizal muncul dalam balutan jins dan kaus ketat membalut tubuhnya. Siapa menduga pemilik tubuh itu adalah seorang pengacara yang menjadi pembicaraan masyarakat dalam rapot istimewa bernilai A+? lalu diriku? aku adalah seorang karyawati terbaik sebuah perusahaan terbesar. Dan kami berdua terdampar di tempat sampah ini dengan alasan cengeng. Cinta!. Omong kosong. Aku meraih tasku yang praktis. Membawanya ke mobil. Melemparkan ke jok belakang. Aku enggan bicara. Ku rasa tak ada yang bisa kukatakan lagi tentang perasaanku ini. Rizal membereskan semua peralatan yang memenuhi kamar sewaan di pinggir pantai. Memasukkan dengan rapi ke dalam mobil. Mataku mengikuti setiap gerak geriknya. Wajah tampan nya tak menunjukan ekspresi apapun, kesabaran dan kasih terpancar dari matanya yang nakal. Aku memalingkan wajah, menatap pantai, laut, langit biru, menghirup udara memenuhi ruang dadakusepenuhnya.
" kita siap pulang tuan putri "   sepasang tangan kekar memeluk pinggangku. Aku merasakan hal yang biasa kurasakan kala tangan Rizal mulai memyentuhku. Kutahan napasku, aku takut Rizal selalu bisa membaca apa-apa yang ada dibalik kepalaku. Bahasa tubuhku. Oh tidakkkk! aku harus mengakhiri kisah gila ini... batinku berontak namun pelukan itu terus menghangatiku, mengetarkanku.... lalu napasnya begitu dekat di leherku yang terbuka. Hangat. Aku merinding. Rasa yang selalu membuatku lupa diri, melupakan siapa aku. Rasa yang tidak pernah kurasakan kala pertama kali berdekatan secara intim dengan suamiku.
" Zal.... hentikan " ku dengar suaraku lirih. Lebih seperti suara merintih dari pada sebuah penolakan. Ku kutuk diriku, karena napasku ikut menderu. Cepat seiring detak jantungku yang pun ikut berbetak cepat.
" Apa itu yang kau inginkan sayang " Rizal membisiki telingaku, nyaris menyentuh bibirnya yang hangat. Aku mengeliat, merasakan bahwa kakiku mulai tak berpijak dipasir.
" Pejamkan matamu, dengar suara hatimu terdalam.... apa yang kau inginkan kasih " kegilaan Rizal mulai lagi. aku tau dia mengodaku namun jujur aku juga tau, betapa aku menginginkannya.
" Apa kamu bisa merasakan ini tanpa sentuhan cinta? " Bibirnya menyentuh telingaku.
" Apa kamu masih menanyakan apa cinta dan bagaimana cinta itu? " sesuatu yang basah dan hangat menyentuh kulit leherku. Napas hangatnya menderu. Aku merasa lemas.
" Apa kita manusia tak bermoral yang mengatas namakan cinta gombal ini diatas prilaku kita?" lidahnya sudah benar-benar menjilati seluruh kulit leherku. Aku ingin berteriak agar Rizal menghentikan semuanya, namun suara yang keluar dari mulutku adalah desahan. Aku mengutuk diriku dengan rintihan.

 

Pengikut